
Pada awal perdagangan hari ini saham rokok sempat ramai ditransaksikan. Hingga penutupan perdagangan saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) naik 5,65%, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) melesat 1,74%, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 2,94%.
Menurut Riset MNC Sekuritas, kebijakan pemerintah menahan kenaikan harga cukai pada 2019 akan berdampak positif kepada kinerja emiten rokok. Pasalnya, ketika pemerintah menaikkan harga cuka rokok, otomatis perusahaan akan menyesuaikan harga jual produknya. Peningkatan harga jual inilah yang mengakibatkan kinerja perusahaan tertekan.
Presiden Direktur HMSP Mindaugas Trumpaitis mengatakan industri tembakau saat ini telah bergeser ke jenis produk dengan harga yang lebih rendah. Penikmat rokok cenderung memilih tembakau dengan kadar tar tinggi dan harga terjangkau.
"Industri tembakau ada tren konsumer bergeser ke produk murah. Segment low tar tumbuh, tapi high tar mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dan ambil alih low tar," kata Midaugas di pacific Place, Jakarta, Kamis (9/5/2019).
Tampaknya, Gudang Garam dan HM Sampoerna berhasil mencermati shifting perilaku konsumen tersebut.
Hingga akhir Maret 2019, total pendapatan GGRM melesat 26,20% year-on-year (YoY) menjadi Rp 26,2 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 21,98 triliun. Sedangkan laba bersih perusahaan tumbuh 24,48% secara tahunan menjadi Rp 2,36 triliun.
Sementara itu, HMSP pada 3 bulan pertama tahun ini mampu mengantongi laba lebih besar sari GGRM mencapai Rp 3,29 triliun (naik 8,35% secara tahunan). Angka tersebut berhasil dicapai perusahaan meskipun total omzet hanya tumbuh 2,89% YoY menjadi Rp 23,81 triliun.
Lebih lanjut, berbeda dengan GGRM dan HMSP, kinerja keuangan WIIM kuartal I-2019 justru berbalik arah dengan tumbuh negatif, baik pada pos penjualan maupun pos laba bersih.
Laba bersih perusahaan terpangkas hampir setengahnya (-49,38% YoY) menjadi hanya Rp 5,27 miliar. Anjloknya laba bersih WIIM karena proporsi pos pembiayaan utama, seperti beban pokok penjualan dan beban usaha, tidak bergerak seiring dengan penurunan pada pos penjualan.
Pendapatan perusahaan terkoreksi 7,9% YoY, akan tetapi beban pokok penjualan dan beban usaha hanya turun masing-masing 6,99% dan 2,23% secara tahunan.
Di lain pihak, RMBA masih betah merugi sama seperti tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan hampir 10% sepertinya belum mampu mendongkrak kinerja bottom line perusahaan. Hal ini dikarenakan, sepanjang kuartal pertama tahun ini, perusahaan sudah mencatatkan kerugian sebesar Rp 83,3 miliar.
Tahun lalu, RMBA juga mengantongi kerugian hingga Rp 608,46 miliar, 26,75% lebih tinggi dibanding kerugian di tahun 2017 yang sebesar Rp 480,06 miliar. Perusahaan, setidaknya terus merugi sejak tahun 2012.
TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/hps)
http://bit.ly/2E9l2az
May 09, 2019 at 11:21PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Jangan Tergoda Dulu Beli Saham Rokok, Simak Kinerja Q1-2019"
Post a Comment