
Pada Kamis (9/5/2019) pukul 12:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.345. Rupiah melemah 0,38% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya dan menyentuh posisi terlemah sejak 3 Januari.
Rupiah tidak sendirian, karena sebagian besar mata uang utama Asia juga tidak berdaya di hadapan dolar AS. Namun dengan depresiasi 0,38%, rupiah menjadi mata uang terlemah ketiga di Benua Kuning, hanya lebih baik dari yuan China dan won Korea Selatan.
Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Asia pada pukul 12:18 WIB:
Depresiasi rupiah dan mata uang Asia lainnya dominan dipengaruhi oleh perkembangan relasi dagang AS-China. Hubungan Washington-Beijing yang sempat mesra setelah beberapa kali dialog kembali panas.
Gara-garanya, AS sudah siap menerapkan kenaikan bea masuk untuk importasi produk-produk China senilai US$ 200 miliar dari 10% menjadi 25%. Kebijakan tersebut berlaku mulai 10 Mei. Produk-produk yang bakal terkena kenaikan bea masuk antara lain modem dan router internet, papan sirkuit, pengisap debu, sampai furnitur.
Menurut AS, China telah melanggar kesepakatan dengan menolak sejumlah komitmen yang dijanjikan. Dalam kawat diplomatik dari Beijing yang diterima Washington, terungkap bahwa China menghapus beberapa komitmen dalam draf kesepakatan dagang. Mengutip Reuters, China disebutkan tidak lagi berkomitmen untuk melindungi hak atas kekayaan intelektual, pemaksaan transfer teknologi, kebijakan persaingan bebas, akses terhadap sektor keuangan, dan manipulasi kurs.
"Mereka (China) melanggar kesepakatan. Mereka tidak bisa melakukan itu, jadi mereka harus membayarnya. Saya sudah mengumumkan akan ada kenaikan tarif (bea masuk) dan tidak akan berhenti sampai China berhenti berlaku curang," tegas Presiden AS Donald Trump dalam pidato di Florida, mengutip Reuters.
Menanggapi tantangan AS, China tidak gentar. Beijing menegaskan akan melakukan serangan balasa saat AS menaikkan bea masuk.
"China sangat menyesalkan jika kebijakan bea masuk AS jadi diterapkan. China akan melakukan kebijakan balasan," sebut keterangan tertulis Kementerian Perdagangan China, dikutip dari Reuters.
Ini membuat pelaku pasar memilih bermain aman, ogah mengambil risiko. Akibatnya aset-aset keuangan di negara berkembang Asia mengalami tekanan jual sehingga melemahkan mata uang Benua Kuning.
(BERLANJUT KE HALAMAN 2)
(aji/aji)
http://bit.ly/2PTJYas
May 09, 2019 at 07:44PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Kasihan Rupiah, Ditekan Perang Dagang dan Ribut Copras-capres"
Post a Comment