Sektor finansial menjadi sektor yang paling banyak diincar pelaku pasar sehingga menguat 1,94% dan menjadi katalis utama setengah hari ini. Wajar sektor keuangan menjadi incaran, dikarenakan suku bunga tahun ini ada kecenderungan tidak dinaikkan (dovish).
Selain itu investor asing juga mulai masuk kembali ke pasar saham dalam negeri dengan memborong saham-saham perbankan. Hingga siang ini, asing mencatatkan beli bersih (net buy) senilai Rp 1,15 triiun miliar di pasar reguler.
Berikut saham yang paling banyak dikoleksi oleh asing: PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (Rp 336 miliar), PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (Rp 207 miliar), PT Astra International Tbk/ASII (Rp 194 miliar), PT Bank Negara Indonesia Tbk/BBNI (Rp 127 miliar) dan PT Wijaya Karya (Rp 87 miliar).
Tidak hanya di pasar saham, rupiah juga terpantau menguat bahkan sempat menyentuh level di bawah angka Rp 14.000/$US. Hingga pukul 12:00 WIB, rupiah dihargai Rp 14.035/US$ atau menguat 0,32% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.
Dunia internasional disebut-sebut merespons positif hasil quick count Pemilihan Umum 2019 dari sejumlah lembaga survei. Untuk mendapatkan informasi seputar hasil quick count, silakan klik di sini.
Analisis Teknikal
Setelah mampu menembus level penghalang (resistance) terdekatnya yang berada di 6.500, IHSG kini menguji level penutupan 6.550 sebagai target terdekatnya. Level tersebut sebenarnya telah dilewati pagi tadi ketika IHSG mencapai level tertingginya di 6.636 dikarenakan eforia Pemilu berjalan dengan baik.
Sumber: Refinitiv |
Berdasarkan indikator teknikal Moving Average (MA), IHSG mulai bergerak di atas nilai rata-ratanya dalam lima hari (moving average/MA5). Hal ini menunjukkan IHSG dalam jangka pendek cenderung naik.
TIM RISET CNBC INDONESIA (yam/hps)
http://bit.ly/2IrfXxS
April 18, 2019 at 08:26PM
Bagikan Berita Ini
Sumber: Refinitiv
0 Response to "Ada Jokowi Effect, Bisakah Sesi II IHSG Naik Lagi?"
Post a Comment