
Pada Jumat (8/2/2019) pukul 09:02 WIB, US$ 1 dihargai Rp 13.985. Rupiah melemah 0,11% dan dolar AS kian dekat ke level Rp 14.000.
Kala pembukaan pasar, rupiah berada di Rp 13.970/US$ atau tidak berubah dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Akan tetapi itu tidak lama, karena kemudian rupiah langsung terpeleset ke zona merah. Bahkan depresiasi rupiah semakin dalam.
Sentimen eksternal dan domestik memang tidak mendukung penguatan rupiah. Dari sisi eksternal, tidak bisa dipungkiri dolar AS sedang jadi favorit investor.
Pada pukul 09:04 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,08%. Dalam sepekan terakhir, indeks ini sudah melesat 1,05%.
Dolar AS menjadi tempat perlindungan bagi investor yang khawatir dengan perkembangan ekonomi global. Prospek damai dagang AS-China kini dipertanyakan, setelah Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam waktu dekat.
"Tidak," jawab Trump atas pertanyaan wartawan apakah dia akan menemui Xi sebelum 1 Maret, mengutip Reuters. Padahal sebelumnya Trump pernah mengatakan dirinya akan bertemu dengan Xi, bahkan mungkin lebih dari sekali, untuk mengesahkan kesepakatan dagang AS-China.
Jawaban Trump membuat pelaku pasar khawatir bahwa kesepakatan damai dagang AS-China tidak bisa dipindah ke jalur cepat. Sebelumnya pasar punya harapan kesepakatan bisa segera terwujud, tetapi kini harapan itu pupus.
Kemudian, investor juga cemas terhadap situasi Eropa yang memburuk. Biro Statistik Federal Jerman melaporkan produksi industri pada Desember 2018 turun 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya. Jauh dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun Reuters, yang memperkirakan kenaikan 0,7%.
Oleh karena itu, para ekonomi meramal ekonomi Negeri Panser akan mengalami kontraksi alias tumbuh negatif pada kuartal IV-2018. Jika ini terjadi, maka Jerman resmi mengalami resesi karena pada kuartal sebelumnya sudah mengalami kontraksi 0,2%. Resesi terjadi jika sebuah negara mengalami kontraksi dua kuartal beruntun pada tahun yang sama.
Tidak cuma di Jerman, aura perlambatan ekonomi menyebar ke seluruh Eropa. Komisi Uni Eropa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Zona Euro pada 2019 sebesar 1,3%. Melambat dibandingkan 2018 yang diperkirakan 1,9%.
Sementara Bank Sentral Inggris (BoE) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Negeri Ratu Elizabeth untuk 2019 dari dari 1,7% menjadi 1,2%. Risiko terbesar bagi perekonomian Inggris saat ini adalah Brexit.
Sepetinya kemungkinan untuk terjadi No Deal Brexit (Inggris tidak mendapat kompensasi apapun dari perceraian dengan Uni Eropa) semakin besar dan tidak bisa dikesampingkan. Setelah kesepakatan Brexit yang diusung Perdana Menteri Theresa May ditolak parlemen bulan lalu, semuanya menjadi semakin tidak jelas.</span>
"Ketidakpastian Brexit yang semakin nyata akhir-akhir ini menyebabkan aktivitas bisnis meredup dalam waktu dekat," sebut pernyataan tertulis BoE.
(BERLANJUT KE HALAMAN 2)
(aji/aji)
http://bit.ly/2Gh9LHw
February 08, 2019 at 04:18PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Rupiah McQueen YaQueen di Zona Merah"
Post a Comment