
Pada Jumat (15/2/2019) pukul 09:38 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.122. Rupiah melemah 0,26% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Kala pembukaan pasar, rupiah memang sudah melemah tetapi 'cuma' 0,04%. Namun selepas pembukaan, pelemahan rupiah semakin dalam.
Derita rupiah bertambah setelah rilis data neraca perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor pada Januari 2019 sebesar US$ 13,87 miliar atau turun 4,7% year-on-year (YoY). Sementara impor tercatat US$ 15,03 miliar atau turun 1,83% YoY. Dengan begitu neraca perdagangan defisit US$ 1,16 miliar.
Realisasi ini lebih dalam dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan ekspor turun atau terkontraksi 0,61% sementara impor juga minus 0,785%. Hasilnya, neraca perdagangan diperkirakan defisit US$ 925,5 juta.
Defisit neraca perdagangan, apalagi sampai di atas US$ 1 miliar, adalah fenomena yang agak langka pada Januari. Biasanya neraca perdagangan malah mencetak surplus pada awal tahun. Sejak 2008, defisit perdagangan Januari hanya terjadi pada 2013, 2014, 2018, dan 2019.
Neraca perdagangan yang defisit membuat prospek transaksi berjalan pada kuartal I-2019 menjadi penuh tanda tanya. Ada kemungkinan defisit transaksi berjalan tetap dalam, sehingga rupiah terus dihantui risiko pelemahan.
Rupiah yang semakin lemah membuat posisinya di klasemen mata uang Asia semakin melorot. Kini rupiah menjadi mata uang terlemah kedua di Benua Kuning, hanya lebih baik dari peso Filipina.
Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang Asia pada pukul 09:48 WIB:
TIM RISET CNBC INDONESIA
http://bit.ly/2GsynND
February 15, 2019 at 04:56PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Neraca Dagang Tekor, Luka Rupiah Kian Menganga"
Post a Comment